Ruang refleksi diri, ruang berbagi.

After Reading || Sebuah Resensi (Novel) "Perempuan Di Titik Nol." - Dalam Suara yang Tetap Samar

Desember 17, 2021

Tentang Novel.

Judul Buku : Perempuan dititik nol

Penulis : Nawal El-Sadawi

Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Penerjemah : Amir Sutaarga

Pengantar : Mochtar Lubis

Ketebalan Buku : 176 Halaman

Cetakan ke: -11

Tahun Terbit : April 2014

Dimensi : 11 x 17 cm









Perempuan Di Titik Nol (Resensi)

Bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum wanita.”

-Perempuan di Tengah Patriarki itu bernama; Firdaus.





Ragam reaksi kerap timbul serta hinggap dikepala kita masing-masing ketika mendengar kata “Patriarki”. Sebuah kata yang dapat melukiskan ke-inferioritas-an sebuah kaum, otoritas moral, timpagnya hak sosial, dominasi politik, serta yang terburuk adalah ancaman kehilangan atas kendali masa depan bagi kaum perempuan. Tentu gambaran tersebut acapkali mejadi cerita atau bahkan momok mengerikan bagi sebagian kaum, khususnya perempuan. Paham yang masih konservatif, ketidaksadaran atas kesetaraan telah membuat budaya sertra praktik-praktik patriarki tersebut masih hidup sampai hari ini. Terlebih di negara-negara berkembang.



Dalam Novelnya, Nawal El-Sadawi, mengajak kita semua (para pembaca) melipir ke negrinya untuk melihat praktik-praktik patriarki secara langsung melalui sudut pandang khusus dari seorang Firdaus, salah satu dari sekian banyak perempuan yang terdampak budaya patriarki di negerinya.



Di mana novel berfokus pada proses transformasi serta perjalanan paling signifikan dalam hidup seorang Firdaus yang polos hingga pada akhirnya menjadi seorang pelacur, sebelum pada akhirnya ia mendapatkan vonis berupa hukuman mati akibat telah membunuh seorang laki-laki.



Novel berangkat dengan masa kecil seorang Firdaus yang lahir serta dibesarkan dalam lingkungan serta budaya patriarki yang kental. diusianya yang masih kanak-kanak serta tidak memiliki pilihan lain selain menerima kehidupan dari kedua orang tuanya, menjadi faktor krusial yang membawanya pada kepatuhan.

Peran orangtua yang diharapkan bisa melindungi, menciptakan rasa nyaman, dan hal-hal sejuk lainnya justru hal tersebut berbanding terbalik. Firdaus kecil pada malam dimusim tertentu sering kali beranjak tidur dengan perut yang kosong dan kedinginan. Jatah makanan serta per-api-an telah menjadi milik satu-satunya lelaki di rumahnya tersebut yaitu, ayahnya. Ironi lainnya pun datang kepada seorang Firdaus kecil, di mana ia harus menjadi korban pelecehan untuk pertama kalinya yang dilakukan oleh temannya sendiri.

Keadaan pasca sepeninggalan orangtuanya, membawa Firdaus jauh ke Kairo mengikuti Sang paman.. Mendapat pendidikan serta menjadi lulusan terbaik di sekolahnya ternyata tidak menjamin masa depan cerah baginya. Mahalnya biaya untuk melanjutkan kejenjang berikutnya, serta masalah-masalah internal Sang paman yang kini sudah berkeluarga, membuat Firdaus harus menghentikan langkahnya. Namum sebagai bentuk balas budi kepada pamannya yang telah memberinya pendidikan, Firdaus rela dinikahkan.

Selepas mengalami sebuah kejadian yang membuatnya trauma dan lebih memilih untuk melarikan diri, membuatnya luntang-lantung, tanpa arah di jalanan. Keinginannya untuk menyambung hidup mempertmukannya dengan seorang bernama Bayoumi. Seorang yang ia kira pada awalnya memiliki hati yang baik serta berbeda dari orang-orang yang pernah ia temui dalam hidupnya, kini ia pun harus kecewa bahwasannya Bayoumi tak lain memiliki sifat yang sama saja seperti lelaki yang ia jumpai dalam hidupnya.

Setelah pelarian kesekian yang telah ia alami, akhirnya ia pun bertemu dengan seorang yang banyak merubah hidupnya, pikirannya, serta masa depannya. Bagaimana tidak, semenjak pertemuan serta kesadaran diperalat oleh Sharifa salah el-Dine hari itu, Firdaus yang semula polos dan belum mengetahui arahnya, kini ber-transformasi menjadi seorang kasar yang lembut serta telah memutuskan kemana ia akan membawa dirinya sendiri.



Firdaus yang merencakan kembali pada titik semula ia memulai segalanya kini berhasil pada keberuntungannya. Namun ironi serta rasa kecewa kembali mendatanginya akibat keberaniannya melangkah pada sebuah rasa yang belum pernah ia alami sebelumnya, yaitu jatuh cinta. Rasa sakit luar biasapun meggerayangi badannya, kini ia telah diterpa sebuah badai kecewa yang mendorongnya kembali pada dunia yang dulu pernah ia singgahi, dunia gelap.


“Lelaki Revolusioner yang berpegang pada prinsip sebenernya tidak banyak berbeda dari lelaki lainnya. Mereka mempergunakan kepitanran mereka, dengan menukarkan prinsip mereka untuk mendapatkan apa yang dibeli orang lain dengan uang. Revolusi bagi mereka tak ubahnya sebagai seks bagi kami. Sesuatu yang dipersahgunakan. Sesuatu yang diperjual belikan.” Ungkapan kekecewaanya sebelum benar-benar pergi.



“Menjadi pelacur yang sukses lebih baik, daripada menjadi suci yang sesat.” Dari kekecewaanya tersebutlah Ia berangkat dan memulai segment hidup yang tidak lagi baru.


Kini kesuksesan berada pada dirinya. Ia bisa membeli apapun dengan sesuatu yang telah ia miliki selama ini. Tak hanya fasilitas fisik dan mental, ia pun dengan mudahnya membeli sebuah “kehormatan” atas tuntutan yang mengotori namanya. “Kini saya telah belajar bahwa kehormatan memerlukan jumlah uang yang besar untuk membelanya, tetapi bahwa jumlah uang yang besar tidak dapat diperoleh tanpa kehilangan kehormatan.”

Kini sampailah ia pada ironi terakhir pada hidupnya. Setelah apa yang ia dapat, kini tugasnya hanya mempertahankan yang ia miliki dari siapapun yang ingin merenggutnya kembali. Tak pernah ada yang menduga bahwa keinginannya untuk melindugi apa yang telah ia dapatkan serta membuka tabir kebenaran, justru hal tersebut membawanya pada hukuman peradilan dunia. Setelah dinyatakan bersalah membunuh seorang lelaki, ia pun dijatuhi vonis hukuman mati.





Penolakan atas dasar menjaga sesuatu yang telah ia upayakan dengan usahanya sendiri, kini telah menjadi ironi paling pahit dalam hidupnya.


“Lelaki memaksakan penipuannya kepada perempuan, kemudian menghukumnya karena telah tertipu, menindas mereka ketingkat bawah, menghukum mereka karena tlah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau menghantam mereka dengan pukulan.”



Seperti pada novel-novel berbau isu sensitive lainnya, tentu di novel nawal el-sadawi kali ini banyak sekali menuai pro dan kontra di masyarakat luas. Apalagi hanya ditinjau dalam konteks yang tekstual. Namun sudahkah kita mengesampingkan semua hal tersebut dan jauh daripada itu, sebenarnya apa yang ingn Nawal sampaikan dalam novelnya tersebut?



Melalui eksistensi serta serangkaian peristiwa yang dialami Firdaus, nampaknya Nawal ingin menunjukan sebuah realitas-realitas memperihatinkan yang masih saja banyak terjadi khsusnya di negara berkembang, di mana zaman sudah jauh berkembang namun budaya serta praktik-praktik patriarki masih terus berjalan dan kian menyedihkan.



Melalui novel tersebut pula secara tidak langsung menegaskan bahwa, terdapat ancaman-ancaman yang tidak tertulis dari budaya patriarki terhadap para perempuan seperti ; rawannya pelecehan akibat perempuan selalu mendapat kepincangan moral serta hak, kemiskinan yang senantiasa menghantui, serta hilangnya hak penuh atas diri sendiri dan masa depan.





Dengan judul yang menarik perhatian serta kisah dan tokoh yang diceritakan berdasarkan kisah nyata membuat para pembaca lebih mudah memvisualisasikan dalam realita keseharian. Masalah demi masalah yang ada disertai dengan konflik yang cukup bermain pada sisi emosional, membuat saya memutuskan untuk menuntaskannya. Membaca novel “Women at point zero” ini telah sedikit banyak membuka pikiran saya tentang pentingnya menciptakan dan menjunjung kesetaraan. Dan tak lupa pula di dalam novel tersebut banyak menawarkan perpektif-perspektif yang cukup menarik.



Namun kendati novel tersebut juga tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada. Seperti buku yang keberadaannya sangat bergantung pada judulnya, dikarenkan covernya yang membosankan. Di awal terdapat gaya bercerita yang terlalu memuja dan memiliki potensi mendiskreditkan suatu kaum. Sesuatu yang fatal yang mungkin luput adalah melupakan kesalahan besar tokoh utama dan memilih fokus pada keberpihakannya, di mana terkesan tidak netral. Bagian yang mungkin dapat dinilai fatal bagi sebagian orang, dikarenakan tokoh utama yang diceritakan dalam nada kepahlawanan namun seakan dilupakannya sesuatu yang membawanya pada akhir cerita tersebut.





Mengingat kata pengantar yang ditulis oleh Mochtar Lubis bahwa benar adanya, bahwa buku ini adalah buku yang keras serta pedas, karena selain realitas menyedihkan, di dalamnya terdapat jeritan, kesakitan serta kutukan dari kaum-kaum yang “pincang”. Siapa yang akan mengira buku dengan tebal yang tidak terlalu tersebut, justru dapat membuat para pembacanya merasa seakan-akan tertampar mengetahui bawa ternyata hal tersebut sangat-amat relevan dikeseharian kita. Bahwa kata “empu” yang diambil dari perempuan yang berartinya kehormatan serta kesaktian hanyalah sekedar ucapan belaka, dalam praktiknya ternyata kita masih sangat jauh. Sungguh menjadi refleksi besar untuk kita semua, para pembaca. 


Menurut saya pribadi, secara keseluruhan novel atau karya tersebut sangatlah layak konsumsi, khsusnya yang meyukai perspektif yang gelap. Namun dengan sebuah catatan apabila ingin menikmati novel atau karya tersebut yaitu, pendampingan atau pengawasan untuk kaum-kaum awam, dan keterbukaan, penerimaan, kebijakan, serta pewajaran bagi kaum-kaum konservatif.





After Reading || Sebuah Resensi Novel "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur."

November 22, 2021

 








Proses Perjalanan Menuju Dunia yang Gelap, Penuh Darah Serta Keringat.

-Memoar Seorang Muslimah.





Tentang Novel
Judul Buku: Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Scripta Manent, Tahun 2005.
Cetakan : Cetakan Ke-1 dari 16
Tebal dan halaman : 269 Halaman dengan dimensi 12 X 19 cm.








Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur (Resensi.)




Novel dibuka dengan seutas kejadian yang menggambarkan hampir secara garis besar keseleruhan dari novel ini. Berkisah tentang seorang perempuan tuna susila yang mendapat hukuman akibat melanggar sebuah norma yang amat dijaga oleh sebuah masyarakat, yang mengakibatkan nyawanya harus melayang.

Semua orang dari berbagai macam kalangan -- mulai dari pemuka agama hingga anak kecil yang belum tahu arti sebuah "Dosa", apa itu"Pelacuran" dan "Zina" -- turut andil dalam aksi peradilan yang mereka percaya sebagai adil.



"Kalian sedang melempari batu -- kalian yang ingin membunuh wanita ini -- kenapa kalian ingin membunuh dia? Karena ia seorang pelacur? Karena a melacurkan badannya? Apakah kalian lebih baik dari dia? Kalian telah melacurkan jiwa kalian, roh kalian. Kalian semua munafik. Adakah satu pun di antara kalian yang belum pernah melacurkan jiwanya, rohnya? kalau ada, biarkan ia melempar batu pertama. Kalian semua kotor, tidak bersih. Kalian tidak berhak menghukum wanita ini." Kata orang, ia yang melindungi wanita malang itu adalah Nabi Isa.

(Dikutip dari Anand Krishna, Surat Al-fatiha bagi orang Modern, 1999:64-65)



Apa yang kerap terbesit dalam fikiran kalian, ketika mendengar kata "Pelacur", "Pelacuran, "Zina"? Banyak dari kita mungkin telah sepakat bahwasannya kata tersebut kerap kali menggambarkan sebuah dunia atau pekerjaan yang dinilai sebagai tabu dalam masyarakat yang bersusila.

Tapi sudahkah kita melihat "dunia" tersebut menggunakan kacamata (perspektif) seorang yang berada langsung dalam pelukan dunia yang di mana banyak orang menganggapnya sebagai tabu?

Melalui novelnya, Muhiddin Dahlan atau yang lebih kita kenal sebagai Gus Muh berjudul, "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur" -Sebuah memoar seorang muslimah. Menawarkan sebuah proses perjalanan menuju dunia yang gelap, penuh darah serta keringat.

Di mana menceritakan suatu proses perjalanan iman dan nalar serta perubahan paling drastis yang dialami seorang manusia atas hal yang paling fundamental dalam tradisi masyarakat tempatnya dibesarkan, yaitu agama dan keimanan.



Novel yang menceritakan perjalanan Nidah Kiran, seorang perempuan yang tengah hanyut dalam doktrin organisasi garis keras (atau suatu kelompok jemaah) yang tengah giat-giatnya mewujudkan sebuah kehidupan-kehidupan yang dilingkari dengan firman tuhan. Bagaimana tidak, semenjak pertemuannya dengan Rahmi dihari itu, Nidah seakan-akan hanya memiliki satu cita-cita yang sebenarnya sangat ia cari-cari yakni, berislam secara kaffah. Namun di dalam perjalanannya mewujudkan cita-cita serta kehidupan ideal (Kehidupan yang ditegakan oleh syariat islam) ternyata tidak berjalan mulus seperti apa yang ia bayangkan. di tengah perjalananya, Nidah, ternyata diterpa oleh badai kecewa.

 
Organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat islam di Indonesia yang di idealkannya bisa mengantarnya berislam secara kaffah justru malah merampas nalar kritis sekaligus keimanannya. Setiap pertanyaan yang diajukan berkali-kali mengenai arah serta keresahannya terhadap organisasi tersebut, harus berkali-kali juga dijawab dengan dogma yang tertutup. Kondisi yang membuatnya sangat resah tersebut berulang kali ia gugat dengan seribu gugatan, namun hanya ada kehampaan setelahnya. Tidak pernah ada jawaban atau solusi yang membuatnya puas atas kondisi yang ia alami saat ini tentang arah organisasi, masa depan cita-citanya, serta hal-hal yang ia pertanyakan. Lagi dan lagi selalu dijawab dengan dogma tertutup.



Dalam kekecewaan dan keresahan yang tak lagi tertahankan, ia memutuskan untuk melarikan diri secara diam-diam dari organisasi garis keras tersebut menuju dunia yang baru. Dunia yang penuh dengan pelampiasan, hingga pada akhirnya ia menjadi wanita yang tidak terkontrol. Kekecewaan, kehampaan, kekosongan serta ke-frustasian-nya terhadap apa yang telah ia berikan terhadap perjuangannya untuk mewujudkan "dunia yang ideal" kini harus ia tuai sebagai hasil yang paling pahit dalam proses hidupnya.



Hingga pada akhirnya ia pun terjatuh kedalam "titik nol" di kehidupannya. Dalam proses keterjerembabnya itulah ia melampiaskan seluruh ke-frustasi-annya melalui obat-obatan terlarang, Free sex, bahkan menjadi pelacur. “Aku hanya ingin Tuhan melihatku. Lihat aku Tuhan! Kan kutuntaskan pemberontakanku pada-Mu!” katanya setiap kali usai bercinta yang dilakukannya tanpa ada secuilpun rasa sesal. Dari pertualangan sex-nya tersebutlah ternyata tersingkap topeng-topeng kemunafikan. Wajah-wajah lain yang tak pernah terlihat sebelumnya, wajah-wajah lain dibalik lantangnya suara aktivis-aktivis yang senantiasa meneriakan tegaknya moralitas.



Tentu novel ini akan banyak sekali menuai polemik di sana-sini apabila hanya dinilai secara tekstualnya saja. Jauh daripada itu, sebenarnya apa yang ingin dipaparkan Gus Muh pada Novelnya tersebut?

Melalui eksistensi serta perjalanan yang dilalui sang tokoh (Nidah) Gus Muh sepertinya ingin memaparkan realitas-realitas yang sebenarnya banyak terjadi dikehidupan bermasyarakat: Tentang status sosial, cinta, agama sebagai tradisi, ide soal ikatan sebagai penyempurna, kebobrokan intelektualitas, serta terlalu timpangnya peranan laki-laki.

Melalui novel tersebut juga terdapat pesan-pesan seperti, bahwa mereka yang jauh dari agama, banyak diduga tidak menemukan keimanan terbaiknya dan justru terjatuh kedalam iman yang hitam. Seluruh rasa "kehausan" (alasan penghambaannya) baik berupa pertanyaan dan lain-lainnya malah terus-menerus direspon dengan dogma yang kaku dan monoton.



Dikoda cerita yang berhasil menggambarkan akhir sebuah cerita yang masih berjalan, yang berisi sisi lain dari seorang Nidah. Ia tetap menengadah, memantapkan diri, meneguhkan segenap hati, serta tak lupa mengulangi kalimat pemberontakannya atas Tuhan. Dengan kemantapan hati tersebutlah ia siap masuk kedalam gelap dari gelap.

"Oh Tuhan, izinkan aku mencintai-Mu dengan cara yang lain, menerima kehidupan dengan sepenuh kejujuran. Seperti gemericik air di pematang sawah, serupa cicit-cicit cericit burung yang bercendai diselimuti induknya karena alam tlah mengajariku untuk menerima setiap lembaran kasih-Mu bersama secauk permohonan. Sayangi aku dalam pekat anugerah-Mu. Aku tak punya apa-apa selain hati yang akan selalu menunggu sapa-Mu. Sapa yang gelap dan terkutuk di kala aku terjaga dari tidurku, di kala sang waktu memalak usiaku terus-menerus hingga aku terlelap dalam penyerahan sempurna, dalam pelukan bumi." -Nidah, dalam doa terakhir dimalam terakhir.



Meninjau penulisan serta pesan yang tersirat, nampaknya GusMuh ingin mengetengahkan seperti apa oknum atau individu yang dapat membuat citra islam tercoreng. Sangat jelas serta terlihat melalui penjelasan-penjelasan yang tertulis dalam novel tersebut ditegaskan, bahwa yang rusak bukanlah suatu agama, melainkan individu-individu di dalamnya.



Dengan judul yang tidak biasa serta pemecahan-pemecahan pada setiap bagian yang saling menyusun (pengakuan 1-11), membuat buku ini lebih menarik untuk dibaca. Dibagaian awal cerita yang sudah memiliki kesan serta bahasan yang menari, membuat kita lebih bersemangat untuk terus melanjutkannya. Membaca buku ini, mengajak kita berpikir kritis atas realitas yang terjadi. Dan tak lupa pula novel tersebut menawarkan kita sebuah sudut pandang atau perspektif lain dari seorang yang kerap termarjinalkan dari sebuah dunia yang selalu menuntut dan mengaku susila/bersusila.



Jalan cerita yang mudah serta ringan untuk dimengerti, serta penggunaan nama dan tempat yang bukan fiktif tentu amat-sangat memudahkan para pembaca untuk mengerti dan menikmati jalan cerita serta membanyangkan kejadian-kejadian di dalamnya.
Namun kendati novel tersebut juga tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada. Seperti cerita yang ditampilkan monoton, adanya beberapa bagian pada cerita yang tidak penting dan berkaitan dengan konflik yang terjadi, banyaknya karakter-karakter penting yang peranan serta latarbelakangnya tidak di didalami seperti rahmi, dahiri, midas serta yang lainnya. Metafora yang terkesan memaksakan serta bagian yang paling fatal dan berisiko adalah gaya cerita yang terlalu mendakwa dan menggurui yang mungkin saja membuat sebagian orang memiliki spekulasi buruk mengenai suatu pihak.

Cover novel yang terkesan biasa-biasa saja membuat penampilan yang biasa-biasa saja pula terhadap bukunya. Jika tidak membaca judulnya mungkin saja orang-orang bisa kehilangan ketertarikannya pada novel tersebut. Ending yang bisa dikatakan di luar ekspektasi dan menggantung dikarenakan ending tersebut ternyata adalah awal. Namun, menurut saya pribadi, secara keseluruhan novel atau karya tersebut sangatlah layak konsumsi dengan sebuah catatan kecil yaitu, pendampingan atau pengawasan bagi kaum-kaum awam, dan keterbukaan, penerimaan, serta pewajaran bagi kaum-kaum konservatif.











Menggeser Stigma || Iri; Adalah Reaksi Hati yang Paling Jujur - AnyPerpektif

Oktober 06, 2021




Iri; Reaksi paling jujur yang dialami hati.








Source: Pinterst - Kill the Negative one.













Tulisan ini mungkin menjadi prosa pertama yang ditulis secara struktrural dengan mengangkat tema serta konteks yang bisa dikatakan cukup relevan dengan hal yang mungkin terjadi hari ini dan kemarin-lalu. Berbicara seberapa relevankah prosa ini dengan kejadian yang terjadi di hari ini dan kemarin, jawabannya silahkan bersama-sama kita melihat kedalam diri masing-masing. Inilah AnyPrespektif.



Latarbelakang

Dalam menjalani keseharian, kita kerap kali berdampingan dengan stigma yang dibuat oleh masyarakat akan suatu hal. Atau barangkali secara tidak disadari, kita pun ternyata tlah ditanamkan atau bahkan memiliki stigma sendiri mengenai suatu hal.

( Menurut : https://www.merdeka.com/ “stigma adalah sebuah pikiran, pandangan, dan juga kepercayaan negatif yang didapatkan seseorang dari masyarakat ataupun juga lingkungannya. Stigma biasanya berupa labelling, stereotip, separation, serta diskriminasi sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi diri seorang individu secara keseluruhan.”)

Lambat laun, muncullah sebuah pertanyaan yang mengusik saya terkait bagaimana sebenarnya kita memandang stigma-stigma produk masyarakat,

sudahkah kita mencari asal-muasal mengapa stigma tersebut kerap timbul dan menjadi sesuatu yang lumrah serta diwajarkan keberadaannya oleh sebagian masyarakat? Atau sekurangnya, sudahkah kita mencari akar sebenar-benarnya dari stigma yang timbul pada diri kita sendiri?

Apakah selama ini kita hanya memakan hasil prespektif masyarakat tanpa tahu kebenarannya? Atau malah justru kita menyadari akan hal tersebut, namun memilih untuk bergeming menutup segala kemungkinan (pandangan sebagian besar masyarakat).




//

Dari berbagai macam stigma-stigma yang dihasilkan oleh masyarakat, tema mengenai "iri" kali ini menjadi bahasan yang cukup menarik untuk dibahas.



Dapat disimpulkan bahwa iri sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang tidak boleh diteruskan secara berkepanjangan keberadaannya, karena beberapa orang percaya bahawasanya, memiliki sifat iri hanya akan menghambat usaha manusia dalam mencapai hasil terbaik dalam hidupnya, dikarenakan (mereka akan) terlalu fokus kepada pencapaian orang lain ketimbang dirinya(Norma Sosial) serta terkesan tidak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Sang Pencipta (Norma Agama.)

Pandangan tersebut secara tidak langsung memberi potret seolah-olah sifat iri ini merupakan sebuah racun yang tidak dianjurkan bagi seorang manapun meminumnya atau bahkan memberi ruang tempat di dalam diri.

Sering kali hal tersebutlah yang diterima secara bulat-bulat oleh kebanyakan orang. Sehingga tidak sedikit yang beranggapan bahwasaannya, stigma tentang “iri” sebagai suatu sifat yang terkesan buruk dan harus dihindari tersebut adalah sebuah hal yang mutlak. Sampai-sampai melupakan bahwa hal tersebut sebenarnya hanyalah sebuah prespektif yang kebetulan banyak orang telah setuju.

Satu hal yang saya yakini dengan berani hari ini ialah, bahwasannya iri termasuk kedalam sifat yang tidak bisa dihindari secara instant, dalam arti lain, iri termasuk kedalam sifat yang manusiawi.



//.

Manusia yang tidak bisa terlepas dari sifat kompetitifnya.

Saat merasa iri, manusia secara natural akan berusaha untuk mencapai atau memiliki hal yang ia inginkan. Oleh karena itu, muncullah kompetisi. Artinya, setiap orang yang memiliki kesadaran penuh pasti memiliki “ke-iri-an” entah dengan apapun itu. Tentu, dengan megakui sifat “iri” tersebut, kita tidak sedikitpun kehilangan nilai apapun.

Justru dengan keberadaannya (iri) telah menjadi salah satu pembuktikan bahwa hati serta pikiran kita masih menjalankan fungsinya dengan benar dan baik yaitu, dengan menunjukan sebuah reaksi (iri). Apapun konotasi orang tentang stigma “ke-iri-an” sudahkan mereka sadar bahwa, iri adalah sebuah reaksi jujur yang ditimbulkan oleh pikiran serta hati kita sendiri?



Catatan kecil; Menjadikan iri sebagai ungkapan tentang ketidakberdayaan sementara, minimal sampai menemukan solusi yang lebih baik untuk diri sendiri.





ini bukan tentang iri kepada mereka dan ingin menjadi seperti mereka.

tapi menurutku ku, jikalau aku menjadi mereka saat ini (orang yang ku iri-kan), mungkin semuanya akan jauh lebih mudah, karna untuk mencapai apa yang saat ini sangat ingin kutuju, mereka telah memiliki semua faktornya.

Aku melihat banyak orang, dengan kehidupan yang hampir sempurna. Dengan ditiap langkahnya hampir memiliki akurasi keberhasilan yang tinggi, tanpa risiko apapun.

privilege?

tentu, itu privilege terbesar yang diberikan oleh variable-variablel lain dalam hidupnya. Mereka dengan bebas melangkah kemanapun, mencoba berbagai hal apapaun tanpa perlu memikirkan risiko apapun.

sedang, yang tidak memiliki privilege demikian, cenderung memperhatikan langkahnya, bahkan kebanyakan dari mereka lebih memilih jalur selamatnya, agar tidak menemui kegagalan yang berarti.

Sebagaian besar beranggapan, hidup diusia yang sama dengan nasib yang berbeda-beda. Ada sebagaian yang berutung karena sama-sama bernasib baik, memiliki akurasi keberhasilan yang tinggi karena memiliki variable-variable tertentu (Keluarga, harta, tahta orang tua). Namun sebagian, ada yang “cukup” hanya menjadi pendengar kisah-kisah heroik setiap keberhasilan.

Memilih untuk bangkit dan memilih untuk iri, keduanya sama-sama merupakan opsi yang manusiawi. Betapa sedihnya, apabila memiliki nasib kurang baik di mana tidak memiliki variable-variable pendukung namun dipaksa menjauhkan sifat yang seharusnya manusiawi (iri). Kondisi serperti itu biasanya diisi oleh orang-orang yang tidak diperbolehkan untuk iri, dan selalu dipaksa mengejar ketertinggalannya dari orang-orang yang memiliki variable.

Dikuatkan dengan frasa, bahwasannya semuanya sudah diatur. 

Namun sering kali mereka lupa, jikalau iri pun merupakan reaksi terjujur yang diciptakan oleh hati kita, yang mengisyaratkan jika “saat ini” kita belum bisa memiliki atau mencapai sesuatu itu.

menyadari bahwa kita selalu mempunyai sebuah keinginan serta diikuti oleh ketidakberdayaan dalam mewujudkannya, karena kita dibatasi oleh sesuatu (entah apa itu). Kemudian mengartikan bahwa, apabila kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dalam kondisi sadar bahwa kita ingin adalah sebuah hal yang tidak sehat, termasuk beberapa cara untuk memandang bawa ke-irian adalah suatu hal yang manusiawi.



Namun, bukan berarti menggeser stigma tentang iri menjadi hal yang manusiawi dapat semata-mata mengubah stigma yang sedari dahulu telah berjalan dari masa ke masa. Sayangnya tidak demikian.

Tapi dilain sisi, iri sebagai salah satu sifat yang manusiawi dan wajar dapat kita jadikan sebuah pandangan baru yang mungkin saja bisa diterapkan ke dalam diri kita sendiri, minimal.

Bahwasannya kita tidak perlu menutupi ataupun menjauhkan sifat iri karena tuntutan stigma lagi. Dengan mengenali iri sebagai sifat yang manusiawi, kita lebih mudah meng”iyakan” bahwa setiap orang memiliki pontensi ke-iri-an, kemudian kita bisa mengidentifikasi tentang, apa yang menjadi sebab “ke-iri-an.” dengan indentifikasi dan seiring berjalannya waktu kita mulai bisa terbiasa mengatasi sifat tersebut kapapun iri mulai muncul.



Para Pelaku Usaha-usaha Baik.

Kemudian, baik di internet maupun dimasyarakat, orang-orang sibuk dengan caption (di Internet) atau usaha berupa berkata-kata yang bisa dikatakan positif (dimasyarakat) dalam rangka menjauhkan atau mencegah orang dari sifat iri tersebut.

Kemudian saya akan mengambil beberapa caption serta kata-kata templet yang sering digunakan guna menyuarakan itikad baik tersebut, contohnya:

Mendapatkan apa yang menjadi tujuan Anda bukan perjuangan semalam. Anda harus konsisten dan tetap berusaha untuk mencapainya. Meskipun kadang perjalanan untuk mendapatkannya tidak mulus, tetapi jangan berhenti dan tetap lah berusaha.”

Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/2694522/3-cara-ubah-rasa-iri-jadi-motivasi



Berikut hanyalah satu dari sekian banyak contoh dari internet maupun usaha berkata-kata (di dalam masyrakat.)

Menurut apa yang saya kumpulakan dalam ingatan dan saya coba untuk rangkum, mengenai usaha berkata-kata serta caption tersebut ternyata menitik beratkan bahwasannya, 

pencapaian telah ditetapkan kepada diri masing-masing dan tidaklah elok rasanya merasakan iri terhadap orang lain, padahal hal tersebut (pencapaian) sudah ada porsinya masing-masing.


Dari pernyataan yang terlahir akibat pengalaman tersebut, pertama-tama kita harus amini bahwasannya usaha berkata-kata serta caption tersebut telah banyak menjauhkan orang dari rasa iri (walaupun tidak ada fakta atau data bahwa berapa banyak meraka yang terjauhi dari sifat iri).

Selain itu, kita juga harus banyak mengapresiasi, karena secara tidak langsung si “Pelaku” usaha berkata-kata serta penulis caption tersebut telah banyak mengingatkan kepada banyak orang bahwasannya, ketimbang membuang-buang waktu dengan ke-iri-an baik yang disengaja maupun yang tidak, kita ternyata masih bisa melakukan hal lain yang tentunya akan berdampak jauh lebih baik yaitu, dengan mewujudkan apa yang seharusnya kita wujudkan.


Kita bisa bayangkan, bahwa betapa banyaknya orang yang tidak saling megenal satu sama lain di dunia ini, tetapi mereka semua tetap ingin menebar atau bahkan sudah menebar kebaikan lewat caranya tersendiri.












'Disforia Inersia': Kedua, Serta Proses Melangkahnya yang Tak Lagi Mudah -WIRA NAGARA.

September 08, 2021









Judul: ‘Disforia Inersia’

Penulis: Wira Nagara

Jumlah Halaman: 143 lembar

Genre: Romance

Penerbit: Mediakita


Review Buku "Disforia Inersia": 
Buku Kedua Wira Nagara, Serta Proses Melangkahnya yang Tak Lagi Mudah





Source: Google









Sebab bahagia adalah kesedihan yang tinggal menunggu waktu.

Disforia Inersia



Begitulah kiranya, tulis seorang Wira nagara dimuka buku keduanya tersebut.

Sebuah anugerah rasanya bisa kembali membaca serta menyelesaikan buku karya Wira Nagara ini. Setelah sempat berhasil pada buku pertamanya (Distilasi Alkena) , kini ‘Disforia Inersia’ 
(Buku Keduanya) hadir dengan berbagai macam kisah baru dan tentunya kembali siap menyapa para penikmat lara.

Walaupun jarak antara perilisan buku ‘Disforia Inersia’ cukup jauh dengan Review yang kali ini saya tulis, sehingga memungkinan bagi para pembaca lama yang sampai pada halaman ini sedikit-banyak telah lupa terhadap isi dari buku ‘Disforia Inersia’. Mungkin ini adalah momentum yang tepat bagi kalian untuk bernostalgia dengan buku tersebut. Dan bagi para pembaca yang masih memilik ingatan tentang buku ini, mungkin ini adalah ruang yang tepat untuk merefleksikannya.


Gambaran singkat tentang Disforia inersia

Buku ini termasuk kedalam genre Romance, tepatnya kumpulan cerita 
(tentang Proses Melangkahnya yang Tak Lagi Mudah) 
yang dialami sendiri oleh mas Wira dibeberapa fase dalam hidupnya. 

Mas Wira mencoba menggambarkan latar yang sangat relate dengan masa sekarang ini. Bahwasannya, di ruang apapun kita (Baik maya maupun tatap muka), patah hati akan selalu ada. Untuk mengetahui lebih luas tentang ruang apakah itu, Silah baca lengkapnya melalui pdf maupun bukunya secara legal.





Seperti biasa, di Review buku kali ini mungkin secara tidak sengaja termuat unsur spoiler. Bagi yang belum berkesempatan untuk membacanya dan khawatir pengalaman membacanya terganggu, silah kembali kapanpun, jika diperlukan.

 Namun, pabila Review singkat ini dirasa membantu untuk refrensi, tentu saya akan memaparkan dengan cukup jelas, melalui apa yang saya tangkap setelah membacanya.



Disforia Inersia’ dalam Definisi, Interpretasi dan Analogi Penulis.

Sedikit membahas tentang latarbelakang dari judul buku tersebut, yang sekaligus menjadi salah satu bagian di dalamnya. Yaitu, 'Disforia Inersia'. 

Biar ku jelaskan, Disforia ialah keadaan tidak tenang/gelisah atau ketidakpuasan yang mendalam. Sedangkan Inersia adalah kecenderungan semua benda fisik untuk menolak perubahan terhadap keadaan geraknya. Maka Disforia Inersia adalah tentang kegelisahan seseorang yang masih menolak untuk melangkah setelah berbagai hal yang menyiksa batinnya; yang pada akhirnya harus dia terima. *ugh perjuangan untuk move on itu berat ya :’)


Tentu bagi para pembaca buku sebelumnya (Distilasi alkena) tema dalam latarbelakang tersebut tidaklah terlalu asing terdengar, keduanya sama-sama memilik pandangan bahwa puncak tertinggi dari mencintai adalah dengan Mengikhlaskan sebuah ikatan.

Seperti pada buku pertamanya, Mas Wira kembali menerapkan gaya penulisan yang saya kira telah menjadi ciri khasnya, yaitu dengan meninterpretasikan banyak bahasa ilmiah. 

Namun yang menarik dari buku keduanya kali ini justru terdapat sebuah frasa dari bahasa jawa 
“Wisa kentir ing marutha.” 
yang cukup membuat saya tertegun mengakui kemampuan anologi ala mas Wira.



Untuk siapa buku ini sebaiknya direkomendasikan?

Sebenarnya buku ini ramah untuk kalangan remaja dan yang ingin bertransisi megakhiri masa remajanya. 

(Berdasarkan apa yang saya analisa) buku ini mungkin akan cenderung survive dikalangan usia remaja dan fase akhir remaja, mengingat hal-hal berbau picisan/romance kini yang banyak menggunakannya adalah remaja. 

Namun tidak menutup kemungkinan buku ini juga ramah diusia yang lebih tua. Siapa tahu?



Bicara soal harga dan kembaliannya(apa yang bisa kita dapatkan)?

Menurut saya pribadi, tentu cukup sebanding di antara keduanya. 
Dengan harga yang masuk akal, buku ini menawarkan banyak hal-hal seru baik di luar (Cover-nya); Dengan gambar yang langsung dilukis oleh Mas Wira, memiliki padua warna yang tidak terlalu ramai, membuat kesan buku ini cukup bagus dan menarik perhatian. 

maupun isinya (Kumpulan cerita) dengan kata-kata yang bisa sesekali kita kutip dan mungkin dijadikan teman untuk mengisi waktu luang karna notabene buku ini mudah dipahami dan ramah untuk dibaca berulang.





Hal-hal yang kusuka, setelah membaca buku ini:

-Buku ini tidak terlalu kompleks. Pada dasarnya isi dari buku ini adalah kumpulan kisah atau cerita, sehingga tidak diperlukan usaha atau waktu yang banyak guna memahami tiap alurnya.

- Keunikan gaya pada penulisan (Tidak hanya dikedua buku ini, namun disosial medianya juga.)

Banyaknya judul dengan menggunakan analogi dari berbagai macam bahasa ilmiah, seringkali membuat kita turut dalam penasaran akan maksud sesungguhnya. 

Minimal kita mulai mencari definisi jelas dari kata setiap tulisan yang menggunakan bahasa ilmiah tersebut, barulah kita bisa ikut meng-analogikannya



Hal-hal yang kurang saya suka, setelah membaca buku ini:

Sebenarnya ini termasuk dalam bentuk kritik saya. Di zaman yang pesat, di mana semua hal yang berbau picisan dan romantisme kini tlah menjadi hal yang klise (untuk sebagian orang). 

Ada kemungkinan terburuk (Menurut saya) bahwa buku ini akan ditinggalkan oleh pembaca lamanya yang dahulu pertama kali membaca buku ini merasa terkesan. Mengapa demikian? 

Jujur hal tersebut terjadi pada saya. Termakan oleh banyaknya hal tentang picisan dan romantisme yang kini berseliweran di mana-mana, membuat citra pandang saya terhadap buku ini (secara utuh dari sudut pandang orang awam) lambatlaun memudar dan kehilangan ke-Exclusive-annya. 

Namun, pabila kita mau mencari sesuatu yang berbeda dari buku ini meskipun kita tlah membacanya berulang, mungkin buku ini menjadi tidak membosankan, bahkan ramah untuk re-read. (Di tambah buku ini sendiri adalah kumpulan cerita.)





Lalu, apa yang saya tangkap dari Buku Disforia Inersia ini (moral cerita dalam prespektifku):

Adalah mungkin apa yang kita rencanakan sering kali berujung pada hal-hal yang sebetulnya tidak kita ingnkan. 

Apa yang selalu kita harapkan baik (Untuk kita) ternyata bukan hal tersebut yang dimaksdukan untuk kita. 

Sehingga kita harus menata hati sedemikian rupa guna siap agar ketika apa-apa yang kita inginkan kelak tidak sesuai lagi, hati kita bisa terbiasa. Juga terdapat nasihat seperti dimuka buku tersebut, saya rasa banyak lagi hal yang akan ditemukan, tergantung proses kita dalam memahami setiap esensi dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.



Oh, Iya! Tentang Disforia Inersia, dan Karya Selanjutnya dari Wira Nagara.




Source: Google- Sinopsis 'Disforia Inersia'


 
Buku ini saya katakan bisa menjadi teman yang baik kala mengisi waktu luang. 

Ringan, relevan, asik. Mungkin tiga kata tersebut menjadi dasar penilaian saya setelah membacanya. 

Tentu saya sangat berharap mas Wira untuk terus menulis dengan gaya menulis yang khas. Bahkan saya tetap berharap gaya tulisan ini akan diterapkan kembali dibuku-buku selanjutnya. 

Sebagai orang yang sudah "agak" lama mengikuti mas Wira disosial media, membaca buku-bukunya, menelaa setiap interviewnya, tentu saya amat berharap adanya karya-karya berikutnya.

Tentu dengan ketidakpuasaan serta syukur yang berlimpah-limpah, saya mengucapkan terimakasih karna sudah mampir dan membaca ulasan ‘Disforia Inersia’ versi ini sampai usai.

Demikian. Ulasan buku 'disforia inersia' ini saya akhiri.

After Reading || Review Buku: 'The Alchemist' - Paulo Coelho || Kesederhanaan ala Coelho.

Agustus 22, 2021




Review Novel
'The Alchemist' – Paulo Coelho




Sumber: Google.

 



The Alchemist – Paulo Coelho. Atau jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi: Sang Alkemis, karya Paulo Coelho. Mungkin beberapa dari kita yang sampai pada halaman ini pernah mendengar atau bahkan sudah tidak asing lagi dengan novel tersebut. Novel yang pertama kali terbit di Brazil pada tahun 1988 ini, diperkirakan sudah laku terjual sebanyak 65 juta copy, serta diterjemahkan kedalam 80 bahasa, bahkan lebih. Angka yang cukup -- bahkan bisa dibilang fantastis untuk sebuah novel terbitan 1988 tersebut. Dibalik itu semua, terbesit sebuah pertanyaan tentang -- 


apa yang membuat novel The Alchemist karangan Coelho tersebut banyak dibaca dan diminati begitu banyak orang, mungkin juga dibeberapa kalangan?

Namun sebelum membahas dan mereview lebih jauh tentang novel ini, izinkan saya memberikan beberapa pemberitahuan yang bisa jadi sifatnya penting, bisa jadi tidak. di review novel berikut ini, tentu mengandung unsur spoiler; Kepada siapapun yang takut akan ‘pengalaman membacanya’ rusak akibat review kali ini, silah kembali kapanpun, jika diperlukan. Namun, apabila dirasa dengan membaca ulasan ini dapat menghemat sebagian waktu, tanpa cemas pengalam baca terganggu, saya sebisa mungkin akan memaparkan review secara lengkap, menurut apa yang saya tangkap.

Tentu, saya amat sangat menganjurkan siapapun untuk tetap membaca novel ini dilain hari atau dilain kesempatan. Tentu implementasi setiap orang berbeda, dan fantasi waktu membaca setiap orangpun, berbeda-beda. Membuat setiap dari kita memiliki makna yang berbeda pula selepas membaca buku tersebut secara menyeluruh.Tanpa tambahan apapun, kita akan segera masuk kedalam reviewnya.


Latarbelakang.

Sebelumnya, terlebih dahulu saya menceritakan latarbelakang; perjalanan menuju buku ini, dan berikut alasan untuk tetap membacanya hingga selesai. Bermula ketika saya berada disuatu forum diskusi interweb bernama, QUORA . Singkat cerita, waktu itu saya sedang mencari tahu tentang kehidupan seorang tokoh yang berkaitan dengan fenomena psikoanalisis, bernama Narcissus. Rasa penasaran dengan berbagai macam versi “Ending” dari seorang Narcissus, membuat saya melalukan riset kecil. Singkat cerita, sampailah pada sebuah kontent bacaan (Sebuah ruang di Quora, tempat kita mencari pertanyaan yang kita tlah ajukan.) di dalam kontent bacaan itu, ternyata termuat sebuah ending dari kisah Narcissus yang membuat saya cukup terpikat. Ternyata ending tersebut termuat dibagian prolog sebuah buku. Buku yang mulanya saya tidak ambil pusing dengan isinya. (Pada saat itu, saya hanya berniat mengutip dibagian Prolognya saja, sebagai Refrensi untuk sebuah tulisan.)

 

Namun pada akhirnya, saya tetap membaca buku tersebut secara utuh, guna menambah refrensi tentang Narcissus. Namun nyatanya, dari awal cerita hingga pada ending novel tersebut, tidak lagi ditemukan nama Narcissus di dalamnya. Alialih merasa rugi, nyatanya novel ini justru menampilkan hal-hal diluar ekspektasi saya.



Bedah isi.

Baik, Saya akan coba untuk menceritakan secara garis besar tentang Novel The Alchemist, dari apa yang saya tangkap.

Garis Besar Novel ini bercerita tentang -- seorang anak yang terlahir di sebuah kota bernama, Andalusia. Yang kemudian bercita-cita ingin menjadi seorang penggembala dan berkeliling antar benua. Tergambar (dalam latarbelakang kisah tersebut), bagaimana kegelisahan seorang Santiago (gembala) akan sebuah mimpi yang kerap kali mengusik hari-harinya. Ia bermimpi; diperlihatkan sebuah petunjuk  tentang harta karun yang terkubur disebuah padang pasir, yang digadang-gadang berada di Mesir.

Di dalam proses perjalannya -- sampai dengan menemukan apa yang ia cari-cari, kerap kali ia menemukan hal-hal baru yang lambatlaun mengubah hidupnya. Mulai dari bertemu wanita gipsi si penerjemah mimpi, yang dalam prasangkanya adalah seorang penipu. Bertemu seorang yang mengaku raja dari sebuah daerah bernama Salem, Ditipu seseorang yang satu bahasa dengannya, berjualan gelas kristal, hingga ikut pada rombongan karavan yang akan menuju gurun pasir.

Satu hal yang nantinya akan menarik, apabila berbicara tentang; bagaimana Coelho mengemas kesederhanaan sebuah kisah perjalanan seorang penggembala, hingga menjadi pada akhirnya sebuah ending yang mungkin akan terus diingat oleh setiap pembacanya.

Tentunya, saya juga akan membahas hal-hal yang krusial dan tentunya menarik untuk dikomentari. Mulai dari alur, tokoh, masalah yang disajikan, klimaks, penurunan, pengembangan tokoh, dan terakhir akan ditutup dengan ending.

The Alchemist sendiri, diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga, dengan alur yang bisa dibilang “Hampir” keseluruhannya bersifat maju. Kata “hampir” sendiri menurut saya muncul karena, dibagian ending dari novel ini menyajikan sebuah flashback yang sebetulnya tidak terlalu intens dan tidak bersifat Reflection, sebagaimana yang sering kita temui.

Menurut saya, tidak diperlukan banyak usaha ataupun waktu yang panjang untuk memahami alur cerita yang disajikan oleh Coelho. Di ceritakan dalam sudut pandang orang ketiga, serta alur yang didominasi “satu arah (maju)”, membuat novel ini dengan sendirinya membawa keiikut sertaan kita dalam setiap perjalanan yang disajikan Coelho disetiap latarnya.

Setidaknya, ada dua tokoh yang saya suka betul, di luar dari anak ini: Sang pemandu unta dan Sang alkemis itu sendiri. Keduanya mulai menampakan eksistensinya dipermulaan halaman 100an hingga 100 menuju kebawah. Sang pemandu unta; dengan pola berpikir serta prinsip hidup yang disajikannya, berikut dengan kata-katanya yang membuat saya cukup terkesma. Justru tanpa disadari hal tersebutlah yang membuat citra tokoh “si anak gembala” Semakin hari mengalami kemajuan. Kemudian Alchemist itu sendiri. Solusi yang selalu ia tawarkan membuat saya atau bahkan sebagiankdari kita merasa “cukup” mendapatkan sebuah kepuasan. Dikarenakan, hadirnya Alchemist membuat setiap penyelesaian sebuah masalahnya menjadi berangsur cepat, kemudian kembali disajikan oleh masalah baru. Menurut saya, hal tersebutlah yang justru membuat novel ini selalu penuh akan hal baru untuk diexplore

Kemudian menuju bagian klimaks. Dengan tempo klimaks yang bisa dibilang; relatif jauh lebih singkat, ketimbang novel-novel yang tlah saya baca sebelumnya. Walaupun demikian, Coelho di sini cukup berhasil membawa saya untuk tetap mengikuti dan membuat ceritanya seakan tetap padat dengan kesederhanaan yang ia buat. Dengan masalah yang datang silih berganti, diikut dengan solving yang brilliant ditiap bagian, membuat Si anak gembala lebih terlihat hidup. Hal tersebut terlihat dari proses masalah satu ke lainnya. 

terakhir, ditutup dengan hal yang hampir krusial disetiap novel, menurut saya. Coelho lagi-lagi menawarkan sebuah ending dengan kesederhanan di dalamnya. Ia berhasil membuat sebuah akhir cerita yang mungkin akan terus diingat oleh pembacanya; khususnya di novel Alkemis kali ini. Betapa Coelho memberi gambaran bahawasannya, hal-hal yang luar biasa justru adalah hal-hal yang sederhana. 

Ending yang menurut saya paling kental dalam hal pro dan kontranya. Sebagian pembaca justru kecewa dengan ending yang disajikan Coelho. Sebaliknya, beberapa lagi justru terkagum, tentang bagaimana cara seorang Coelho menutup kisah tersebut. Jika kalian tanya, 

bagaimana pendapat saya tentang endingnya? 

 Mungkin saya adalah salah satu yang sedari awal membaca, sudah terkagum akan pemilhan tiap kata yang beliau gunakan. Terlebih, dengan sisipan-sisipan kesederhanaan dibeberapa bagian, yang menurut saya membuat novel ini hidup karena mudah untuk dimengerti.

Di akhir bagian bedah isi, mungkin saya akan sedikit menuliskan pengalaman saya setelah membaca keseluruhan cerita The Alchemist. Perlu diingatkan, bahwasanya novel ini bergenre; Adventure, fantasy. Yang seharusnya mungkin disajikan dalam ratusan halaman, serta puluhan bagian BAB yang membuat dimensi buku menjadi jauh lebih tebal. Namun buku ini justru dikemas dengan 215 halaman, diikuti dimensi buku yang tidak terlalu tebal. 

Tentu diawal membaca, saya sempat mempertanyakan -- sejauh mana buku ini bisa membawa -- menuju sebuah perjalanan yang dimaksud. Dikarenakan jumlah halaman yang mungkin bisa dibilang jauh lebih sedikit, ketimbang novel-novel perjalanan-fantasi lainnya. Kini semua pertanyaan serta keragauan saya pun tlah berujung pada decak kagum. Sedari awal cerita sampai kepada akhir. Perpaduan antara unsur fantasi serta perjalanan yang bisa dibayangkan, membuat saya memutuskan untuk menyelesaikan buku ini.





Hal-hal yang kurang saya suka, setelah membaca buku ini:

1. Bagian sampul. Jujur, pertama kali saya melihat cover novel ini, mengingatkan saya kepada buku-buku cetak sewaktu Sekolah Dasar. Namun setelah mencari tahu lagi, cover The Alchemist ini ternyata banyak dan bermacam-macam. Termasuk yang saya jadikan header dari tulisan ini, menurut saya itu versi terbaik dari cover novel ini. Walaupun banyak kata-kata tentang “Don’t judge book by the cover.” Toh, semua itu kan selera. Nyatanya buku ini tetap laku.

2. Part yang berlebihan. Menurut saya, terdapat hal-hal yang harusnya apabila diteruskan secara konsisten, maka buku ini medekati kata sempurna. Sebagaimana cerita dimulai, sampai memasuki beberapa kali klimaks, cerita terus menerus mengalir dengan mengedepankan logika, prinsip hidup, perenungan, berfikir rasional serta filosofis. Hampir semua berbau materialis. Walaupun tak luput dari pesan spiritualis serta pengetahuan mistis. Terdapat satu bagian, menurut saya terlalu berlebihan dan terkesan bertele-tele (dalam hal fantasinya), kurang rasanya, ketika sedari awal kita terus menerus digiring dengan hal yang berbau materialis.



3. Alchemist; hampir tak tersentuh. Tokoh tanpa celah. Setelah mengakui bahwa Alchemist menjadi salah satu tokoh yang saya suka, nyatanya hal tersebut justru berubah menjadi sebuah paradox. Dari awal kemunculnya, Alchemist digambarkan dengan wujud yang berwibawa, berilmu, terkesan memiliki semua pengetahuan diluar orang awam. Hal tersebut ternyata dibuktikan hingga akhir cerita. Alchemist, menurut saya adalah tokoh yang digambarkan selalu beberapa level lebih tinggi dari orang yang ia temui. Membuat saya berspekulasi, bahwasannya Alchemist adalah utusan langsung dari Maha Sempurna.



Berlanjut kepada

Hal-hal yang saya suka, setelah membaca novel ini:

1. Buku ini banyak menawarkan pelajaran dikehidupan sehari-hari. Dimulai dengan bermimpi hingga beranjak mewujudkannya.

2. Kata-kata dan quotes yang diberikan berbagai tokoh juga mungkin menjadi salah satu kutipan yang nantinya akan diterapkan kedalam kehidupan sehari-hari. Begitu berlimpah, khususnya tentang bagaimana sebuah cita-cita harus diwujudkan.

3. Hampir semua tokoh bisa diteladani dan mudah untuk menjadikannya acuan dalam meniru prinsip hidupnya.





Implementasi dan hal-hal yang saya pelajari, setelah membaca novel ini:



Awal dari perjalanan besar santiago adalah berasal dari sebuah mimpi. Semenjak mendapat mimpi itu, Santiago mulai menggembala dan berkelana keseluruh tempat yang ia belum pernah kunjungi sebelumnya. Secara tak tersurat, pesan menggembala serta berkelana berarti ditujukan untuk mencintai kebebasan dengan cara menyingkirkan hal-hal yang menghambat: rumah, domba, anak gadis si penjual wol. Bahwasannya, justru kerap kali yang menghalangi kita untuk meraih takdir itu, ialah dirimu sendiri.



· . Bahwa takdir adalah yang terpenting. Saya tidak tahu relevansi antara takdir dan cita-cita, tapi keduanya amat berkaitan beberapa kali dalam buku ini. Bahkan, Santiago sempat dua kali mendapat ancaman kematiaan. Sesaat selepas menerjemahkan mimpi seekor elang yang jatuh dan ketika di padang pasir dan saat menjadi tawanan perang antar suku. Keduanya hal tersebut ia alami karena ia dalam proses mengejar takdirnya. Diikuti dengan kata-kata Sang Alchemist “mati dalam mengejar takdir, jauh lebih baik daripada jutaan orang yang mati dengan tidak mengikuti takdirnya.”



· Santiago begitu cinta dengan apa yang telah tertulis untuknya (Maktub.) dan mungkin, hanya takdirnya yang ia punya, sebab itu ia mulai belajar untuk mencintainya, mengejarnya, dan mewujudkannya. Serta ia pun yakin akan takdirnya, dibuktikan oleh kata-kata sang raja Salem yang masih ia ingat, dan ternyata memang benar adanya: “jika kau menginginkan dan mengejar takdirmu, maka semesta akan bahu-membahu membantumu, oleh sebab itu, kau harus bisa membaca seluruh pertandanya.” Namun, sering kali manusia takut untuk megejar takdirnya, karna menurutnya itu hanya akan membuatnya kecewa, setelah ternyata yang selama ini dibayangkan tidak seindah saat hal tersebut diwujudkan. Itulah yang disebut sebagai, hati manusia; karna rentan dan cenderung takut menderita. 

Sesaat akan di berikan sebuah ganjaran; selepas ia meceritakan mimpinya kepada petinggi oasis dan terancam akan dibunuh -- apabila yang mimpi yang ia terjemahkan salah. Dan ketika datangi oleh seseorang yang bertunggang pada seekor kuda, (Alchemist) yang hendak menebas Santiago, ia (Santiago) pun berkata: 

“mati hari ini atau esok sama saja. kau mati hari ini itu tandanya tuhan tidak ingin merubah nasibmu. Sedangkan jika kau mati esok, tandanya tuhan masih ingin mengubah nasibmu.”

Betapa ajaibnya kata “Maktub.” Yang tlah ia dapat, dan kini ia terapkan.

Sesuatu yang luar biasa, ternyata adalah hal yang sederhana. begitu kiranya isi buku ini. Santiago menggembala, bertemu dengan banyak orang yang sedikit-banyak telah merubah dirinya. menyinggahi banyak tempat; membuahkan pengalaman baru. afrika, pasar, padang rumput, toko kristal, karavan, padang pasir, oasis, piramida. Ia berhasil mewujudkan takdirnya, ketika sebagian orang  justru  memilih untuk tidak mewujudkannya; karena hanya impian itulah yang membuat sebagian orang itu masih tetap hidup dan bertahan hingga saat ini. Mereka takut, apabila mimpi yang selama ini mereka kubur sebagai alasan mereka untuk hidup dan bertahan, alih-alih hasilnya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Mereka takut kehilangan harapan tersebut, dan tetap memilih untuk mengunci impiannya rapat-rapat. 

Lalu, kenapa kita diajak berkelana jauh hingga ke mesir, padahal harta karun tersebut ada di dekat tempat tinggalnya; harta karun yang ia mimpikan terletak di mesir ternyata ada dibawah pohon tempat masa kecilnya mengumpulkan domba-domba. 

Menurut saya, adalah untuk sebuah pengingat. Bahwasannya hal-hal yang kita butuhkan, mungkin, banyak dari mereka mereka berada didekat kita, hanya kadang kita yang tidak bisa membaca pertanda. 

Tentu terakhir. "mengapa demikian? semua hal terjadi?" mungkin saja semua itu, semua perjalan serta semua pertemuan itu, sudah dituliskan oleh satu tangan yang sama, “Maktub.”



Demikian.





Novel tersebut dikhususkan, atau cocok untuk siapa saja? Dan bagusnya dibaca ketika umur berapa?



Tentu, novel ini dikhususkan untuk siapa saja, kalangan apa saja, yang siap dan berminat untuk membacanya. Selain n universal, novel ini juga berisi banyak pelajaran yang mungkin bisa diambil serta diterapkan, terutama untuk mencitai dan menerima sebuah takdir. Dan tentang bagaimana sebuah cita-cita dan tujuan adalah yang terpenting.





Terakhir. Dengan adanya Review novel kali ini, ditujukan sebagai sebuah refleksi (khususnya diri saya sendiri). Dan tentang bagaimana keterbatasan saya untuk menyerap serta mengingat-ingat hal krusial yang disajikan di dalam novel ini. Oleh sebab itu, saya menjadikan Review novel kali ini sebagai sebuah arsip kecil, baik untuk saya dan untuk pada sebagian dari kita yang mungkin membuthkan. Tentu, saya tidak akan pernah puas dengan apa yang saya tangkap hari ini dan kemarin, mungkin saja jala yang diberikan tidak terlalu besar, atau mungkin memang seperti itu adanya. Tapi mungkin itulah alasannya, saya akan selalu kembali mengulang hal demikian, berharap menemukan sesuatu yang lebih dan lebih.



Cerpen: Eskrim Minggumu - Nocturn || ke-2.

Juli 06, 2021

 


Illustrasi cerpen Es krim Minggumu




"Es krim Minggu mu."

 

Jadi, minggu lalu, tempatnya tidak begitu jauh dari tempat orang-orang duduk sambil ngobrol. Aku liat anak kecil yang lagi dangak-ngelongok, kayanya si penasaran. mungkin, kalau aku masih seumuran dia, aku engga cuma berusaha lihat, mungkin langsung introgasi mamang-mamangnya, "mang, emangnya kalo vanilla sama coklat enak?" atau, cuma coklatnya aja yang kerasa?" padahal toh nantinya-- anak-anak. Ucapnya

 dalam mimpimu, ia terus saja bercerita tentang rasa-rasa pada eskrim. ditengah marak ragam rasa pada eskrim, untung yang kamu dengar hanya coklat, vanilla dan strawberry, jadi kamu bisa kenyang hanya dengan mendengar tanpa harus menerka-nerka rasa baru. rasa yang nampak begitu nyata sepertinya berhasil membuatmu malah ingin tidur dalam jangka waktu yang lebih panjang.

di nun jauh, apabila tergambarkan maka ialah sebuah tempat dalam lukisan, sebuah tempat seperti dalam negri dongeng, manabila kamu lihat, niscaya yang kamu lihat ialah bentangan menghampar.

"lalu apakah mereka hidup layaknya dongeng juga?" dengan tanya, tanganmu menopang dagu.

"maksudmu?" tanyanya agak heran.

kamu mencoba menerjemahkan maksudmu menjadi kata-kata.

"aku agak bingung sebenarnya," kamu mencoba tegap dan perlahan menurunkan tanganmu dari dagu. "maksudku, dengan tempat seperti lukisan dan layaknya negri dongeng, apakah penduduknya juga hidup demikian?"

lalu ia menundukan kepala sejenak, kemudian menaikannya seperti teringat akan sesuatu, seraya berucap:"aku pernah mendengar sebuah kisah yang mengatakan jika di sana itu, kamu bisa hidup dan menjalani hidupmu hanya dengan kata-kata. bahkan kamu bisa merasa kenyang serta bahagia hanya dengan mendengar kata-kata."

"kalau begitu aku tidak ingin menjadi lelah, aku hanya ingin menjaga eskrimku agar tetap beku dan menghabiskannya dalam kondisi demikian." lontarmu dengan polos.

"tidak hanya itu, kamu juga bisa menikmati eskrimmu sebanyak yang kamu mau." lantas jidatmu mengkerut, wajahmu mulai kecut, kamu mendengar pernyataanya seperti orang tidak yakin.

sudah lima jam lebih apabila dihitung dalam waktu normal, ia terus saja bercerita. kamu yang semula merasa kenyang dengan tiga rasa pada eskrim, perlahan merasakan haus.

matahari begitu dekat dengan tenggorokanmu, air selokan dipinggir halte tak ada yang bergerak, angin menjadi berwarna dan beraroma. kamu mulai letih, wajahmu mulai lelah, badanmu mulai pegal menjalar karna selama lima jam lebih waktu normal, kamu hanya diam-duduk, dan tersenyum mendengar ceritanya. sempat muncul dibenakmu, bagaimana bisa aku merasakan lelah yang begitu padahal aku hanya duduk, dan cerita yang ia bawakan juga seru.

 berselang, terhitung setelah tiga puluh menit selepas kamu berkata demikian, kamu mendengar bunyi yang mengalun, angin berjalan melewatimu, kamu hanya celingak-celinguk mencari, bertanya,"apakah warna angin barusan? rasanya sejuk dan membuatku sedikit mengantuk." sayangnya itu hanya kamu simpan untuk dirimu.

angin terus memelukmu dari belakang, mengusap kelopak matamu, berjalan melewati kupingmu seraya berbisik dengan hal yang hanya kamu yang tahu, tentang apa yang dibisikan angin. perlahan pandanganmu menjadi ada lalu tiada, ada lalu tiada, ada lalu tiada. kepalamu mulai turun tapi berulang kali kamu mencoba mengangkatnya kembali. sampai singkatnya nafasmu tlah menjadi ringan, leher dan kepalamu tlah menjadi penurut, tapi samar-samar kamu masih mendengar ia bercerita. 

ia bercerita dengan wajah yang sama, dengan bibir yang tidak pernah terlihat kekeringan saat kata demi kata berloncatan keluar, serta dengan kata-kata yang hampir mendekati nyata. sebelum kamu benar-benar hilang, kamu memastikan sekali lagi bahwa ia masih benar-benar bercerita, kamu tak tahu agar atau untuk apa memastikan itu tapi ntah, mendengarnya membuatmu merasa senang.

 cuaca tetap saja terang tapi untungnya tidak terlalu terik. sedari tadi kamu merasakan gatal-gatal pada betis dan lenganmu. sembari bangkit kamu mencoba menepuk-nepuk celana belakangmu seperti membersihkan sesuatu. beberapa menit kamu hanya terdiam, tidak terlalu lama mungkin hanya tiga menitan waktu normal. dengan kebingungan kamu mencoba mengingat-ingat kejadian dan tempat terakhir kali kamu berada.

"di sini ada orang tidak? aku numpang berteduh, ya?" ucapmu, ketika melihat bangku yang duduk di bawah pohon rimbun. tanganmu meraba bangku, tidak tahu untuk apa, kamu memang suka seperti itu. dengan gerakan yang perlahan kamu mulai duduk, diiringi celingak-celinguk untuk memastikan bahwa hanya ada kamu sendirian. dalam posisi setengah bersandar pada kedua tanganmu yang kebelakang, kamu menghela nafas yang tidak begitu panjang, kamu dengan celingak-celingukmu yang khas kembali memastikan keadaan sekitar, namun hanya bunyi angin. kamu tersenyum sembari merebahkan tubuh kecilmu pada bangku dari bambu itu. kamu melihat keatas, tepat kecelah-celah daun, cahaya seperti berebutan untuk masuk. hanya ada suara angin menyenggol-nyenggol daun, dan suara hewan ternak yang entah dari mana asalnya. bentangan hijau lengkap dengan landskap sawah, angin yang mengenai orang-orangan sawah.

kamu melihat sebuah bukit begitu hijau, di bawahnya terdapat karung-karung gandum tersusun sepertinya itu habis dipanen, sayur-mayur, padi, serta hewan ternak yang berhamburan, lalu tiba-tiba terdengar gemericik air yang membuat hatimu sedikit damai, karna bukan hanya menenangkan tapi kamu bisa kapanpun mandi serta mengambil air tersebut.

angin terus saja berbicara kepada alam, bercipak-cipak di air, berlarian di rumput rumput, serta membunyikan lonceng-lonceng dari hewan ternak. dengan hati dan fikiran yang damai perlahan kamu memejamkan mata, meminjam nafas pada tempat itu.

"tempat yang ia ceritakan itu--" dengan mata yang terpejam kamu hanya tersenyum mengingat itu. "pasti tempat itu di dekat-dekat sini." sambungmu dengan tertawa kecil.

perlahan rintik air jatuh tepat pada keningmu, menetes dan membuatmu sontak membuka mata. kamu terbangun dihadapan alun-alun warga, kembali celingak-celinguk mengingat apa yang barusan terjadi "kayanya tadi cuma mimpi." ucapmu sembari berdiri dan meregangkan badan. "aku tadi mimpi apa, ya?" kamu mengucapnya sesekali sambil mencoba mengumpulkan ingatan-ingatan. seperti halnya orang yang bangun tidur, kamu pun menyerah untuk mengingatnya. 

kamu berjalan dengan kebingungan yang menggerogoti rambutmu, kamu tidak gatal tapi tanganmu terus saja menggaruk kepalamu. kamu terus berjalan dengan kertas yang putih dan tulisan yang tak pernah bisa kamu baca, namun pada keyakinanmu, suatu saat tulisan dan penulis itu akan muram. langkahmu berpadu antara bumi yang kamu pijak dan kertas yang kamu injak, disepanjang perjalananmu menuju rumah kini terasa berbeda, kamu menemui pohon dan tiang-tiang pinggir jalan kini berubah menjadi makanan-makanan sehat, alat kepintaran, serta jaminan kebahagiaan masa tua. kamu tergiur tapi kamu tahu bahwa 

"ini  bukanlah negri yang ia ceritakan, ini kan negri tempatku tinggal, mana mungkin semua itu ada." tawamu tipis dan sedikit psimis.

haripun semakin sore namun kamu tak kunjung sampai kerumah. 

"rumahku di mana, ya? perasaan kemarin mash di sini, aku kan cuma tertidur sebentar masa ada yang membawa kabur." waktupun berjalan jauh, kamu hanya merenung melihat awan, sembari berharap negri diatas awan itu jatuh ketempat di mana kamu duduk sekarang.

tak pakai waktu lama, tuhan tahu, doamu terkabul. kamu melihat sesuatu yang terang dari atas. dalam penglihatanmu, semua nampal putih dan terang. kamu mulai merasa sedikit guncangan, itu membuatmu khawatir.

"ini ada apa ya, tuhan?" suaramu mengecil.

kamu hanya terperangah melihat keatas dan semakin kehilangan dirimu perlahan, pelan, pelan hingga kamu merasa sepenuhnya kehilangan.

 kamu tak bermimpi, kamu hanya terbangun di tengah taman dengan keadaan lapar dan haus. kamu tak tahu waktu itu pukul berapa, yang kamu dengar hanya suara adzan itu lumayan jauh. kamu hanya mengusap mukamu seperti gerakan selepas amin. kamu mengambil botol air sisa yang ada ditanah rumput. terdengar botol itu mengkerut dan kamu memasukannya ke karung sehabis kamu meminumnya.

 kamu mulai melilit karungmu dan memikulnya, dari wajah dan suaramu yang sedikit agak kaget, sepertinya ada lelah yang senantiasa yang memelukmu. air yang kamu minum tidak mengubah rasa apa-apa yang ada di dirimu. kamu berjalan dengan pandangan tertunduk, mencari malam ini dan hari esok, siapa tau itu ada dibawah, di dekat kakimu. 

terlebih dahulu kamu memutari taman, melongok kebawah ketika sampai pada setiap sudut taman. kini langkahmu telah benar-benar jauh dari kursi taman, kamu tak pernah perduli benar dengan apa yang pernah kamu tinggalkan di sana. kamu semakin kecil dalam pandangan kursi dan taman, hingga pada akhirnya kamu resmi meninggalkan kursi taman dan mimpi itu.

kamu telah yakin dengan apa yang kamu semai atas hari ini. kamu pergi bukan untuk mencarinya,  tapi untuk mempersiapkan diri untuk makan eskrim karna,

"malam ini malam minggu dan esok pasti banyak tukang eskrim di sini." ucapmu tersenyum dan berjalan dengan riyang.

 

 

 

 

 

 

 

 


Puisi || Perandai-an || DM

Desember 11, 2019



Perandai-an

   Jika serupa tangkai kan selalu di genggam.
Jika serupa langit kan selalu di pandang..
Jika serupa khayal kan selalu terbayang..

Diri sedia memutar peran
menikam bayang, mewujud tindak
kan dibuatnya terbalik izin tertanda
langkah ini tak bernyawa

kini..diri terjebak pada sorotnya
Jika sinarnya sanggup memikat
Jika lirihnya sanggup menyita
Jika bisunya sanggup mengalihkan

Dan..

Jika sudah hampa terpampang
Siapa patut diberi tanggung?
Hey..sinar, langit, bulan
Kami butuh jawaban










Puisi oleh      : @daivamaritza
Ilustrasi oleh : @adelsalsaa

Puisi | Rapuh juga Rapih | DM

November 04, 2019

-Rapuh juga rapih-

Sorot mata bak bulan sabit memukau dengan cerahnya
Merengkuh hati tiap manusia bersamanya
Menutup skenario terburuk dalam hati yang sedang beradu, beradu tuk menyayat jiwa sang pemilik
Menatap lurus isi mata dengan segenap sinar yang di pancarkan
Semakin dalam...semakin redup lentera indahnya
Semakin di telisik semakin perih yang di dapat
Semesta menutup rapat rasa hancur pada diri mungil nan rapuh dengan segala kerapihannya.

-DM



sapa penulis

Insagram : @Daivamaritzha


Puisi | Pudar bersama langit | Dm

Oktober 05, 2019

-bersama langit-


Lembar kisah dibawanya pergi
Bersama rindu yang menguntit 
Mengenyahkan raga yang terbalut ego dalam lara

Konspirasi terbaik dalam kabut yang menyelinap masuk

Membuat sang empunya meracau hebat
Racauan kuat yang selaras dengan sayatan luka dalam rasa




Asin dikemasnya rapat dalam pelupuk mata mungil
Isakan dibiarkannya memudar bersama tangisan langit
Ragapun dibiarkannya gontai dalam serbuan angin sendu


                   -Dm
 


















51019*



sapa penulis

Insagram : @Daivamaritzha

Gambar oleh : Adelia
Instagram : @adelsalsaa

Marx; Sebuah candu?

September 10, 2019

                    

                         Sebuah peringatan
                                      Part 1
Saat ini, tidak ada satu aspek kehidupan yang tidak dihubungkan dengan agama, mulai dari perasaan bahagia, pekerjaan, bencana alam, bahkan hingga pertarungan politik. Semua hal yang sudah atau sedang berlangsung kalau bisa diatas namakan agama, dijaman Soekarno dulu dikatakan politik adalah panglima, dijaman Soeharto ekonomi adalah panglima, sekarang agama adalah panglima. Tapi satu hal yang akan menimbulkan cibiran, kutukan, bahkan presekusi.

      Adalah jika kita memasukan nama Karl Marx dalam kata ‘agama’ ini, banyak yang beranggapan bahwa Marx anti agama, sehingga tidak relevan dong, jikalau kita hubungkan antara Marx dengan agama, tapi apakah benar demikian?
Kita akan bedah masalah prespektif masyarakat tentang Karl Marx dan idenya tentang agama. Bagian satu.
       
         "Agama adalah opium masyarakat" adalah salah satu kalimat termahsyur yang sering disindir orang jika bicara Marx dan agama. Pernyataan lengkapnya berbunyi:"Agama adalah keluh kesah dari masyarakat yang tertindas, hati dari dunia yang tak berhati, dan jiwa dari keaadan yang tak berjiwa, agama adalah candu masyarakat."

                             Pernyataan ini mengungkapkan tentang agama sebagai ekspresi penderitaan manusia dibumi sekaligus ungkapan protes atas
penderitaan tersebut. Di zaman Marx masih hidup, yaitu di kehidupan abad ke-19, opium atau candu berkonotasi positif. Opium adalah obat murah untuk para kelas pekerja saat itu. sehingga dianggap bermanfaat dan banyak gunanya. Tidak seperti sekarang yang melulu negatif,  jadi sumber penyakit, dan aneka ketagihan buruk lainnya.
                      
yang jarang diketahui orang adalah bagaimana Marx amat menghargai existensi agama dalam kehidupan manusia sebagai sesuatu yang besar dan berpengaruh. Disaat yang sama Marx berpendapat bahwa kekuatan agama yang besar tersebut bisa membentuk ilusi kebahagiaan dibenak dan fikiran manusia, dan menjadi semacam opium  bagi orang-orang yang sakit sebab bisa meredakan rasa sakit dan sengsara.

Setidaknya ada dua point yang mungkin mendasari mengapa Marx dan idenya ditolak dan justru dianggap berbelok dari moralitas, khusunya di Indonesia.

Agama adalah opium.” Seperti sudah ditegaskan diatas, opium pada masa Marx masih hidup, yaitu pada abad ke-19, adalah justru menjurus atau berkonotasi sebagai sesuatu yang baik/positif. Di karenakan opium pada masa itu dinilai baik dan banyak berguna untuk para kelas pekerja. Seiring berkembangnya zaman, serta cara pandang seseorang, opium pun menjadi salah satu zat yang banyak di salah gunakan bagi sebagian orang
     
    Yang tentunya membuat ‘nilai opium’ di masa dahulu dan kini amatlah berbeda, baik dalam segi konotasi, maupun wajar atau tidak wajar dalam sebuah analogi. Masyarakat awam yang hidup di era kini mungkin akan merujuk atau mengambil pengetahuan yang sudah tersedia saat ini, bahwa ‘opium’ termasuk atau tertekan dalam makna yang tentu berkonotasi negatif,
 Menimbulkan kecanduan, menghilangkan kesadaran seseorang, dan efek buruk lainnya yang ditimbulkan akibat pemakaian yang berlebih.

Banyak yang berasumsi, bahwa ide Marx itu menganalogi kan manusia yang mulai kehilangan kesadaran, kecanduan, akibat opium. Sehingga asumsi-asumsi itu banyak diangkat dan menjadi perdebatan banyak orang.
Bisa ditarik kesimpulan bahwa mungkin, asumsi-asumsi itulah yang kemudian menjadi sebuah penolakan atas ide yang dikemukakan Marx.

Point berikutnya, agama ialah ilusi. Pada saat yang bersamaan Marx juga menyebutkan bahwa, “kekuatan agama yang besar tersebut bisa membentuk ilusi kebahagiaan dibenak dan fikiran manusia, dan menjadi semacam opium  bagi orang-orang yang sakit sebab bisa meredakan rasa sakit dan sengsara.”  Selanjutnya yang banyak menjadi perdebatan ialah, agama bisa menjadi sebuah ilusi yang menempel dibenak dan fikiran masyarakat. Tentunya makna ilusi itu sendiri pun sudah berkali-kali mendapatkan terjemehan yang lain-lain pula, beda kepala, beda juga penerjemahaan. Membaca setengah, atau membaca secara keseluruhannya pun, tentu akan beda hasilnya.

          Menyebut kata ilusi, yang terlintas dibenak kita pasti adalah ketidak nyataanya suatu objek. Asumsi orang tentang agama adalah berbanding terbalik dengan apa yang ingin disampaikan Marx, point yang ingin dikritisi Marx ialah, Besarnya kekuatan agama, serta timbulnya  faktor-faktor yang terkadang memang benar terjadi, kadang kala membuat orang-orang yang terikat dalam suatu agama tersebut seolah-olah berimaji bahwasannya efek yang ditimbulkan oleh agama memang terus menurus positf tanpa adanya wujud nyata dari si (manusianya) itu sendiri. Yang membuat manusia itu sendiri pasif dan tidak mau melawan atas sesuatu yang menyulitkannya atau dalam bahasa lainnya, kehendak pasrah.

Tentunya dari pengambilan informasi yang setengah-setengah tersebut, timbulah sebuah ketidak fahaman yang membuat sebuah opini yang tidak sesuai pula atas ide-ide yang dilontarkan Marx, sehingga lahirlah prespsi-presepsi buruk. Ketika sebuah informasi hanya diambil kepalanya saja, tidak berikut semua isinya, maka yang terjadi hanyalah ketidak tahuan, ketidak tahuan itulah yang memancing masyarakat untuk membuat asumsi-asumsi versi mereka dan tentunya berjalan dari mulut ke mulut, bukannya haram hal seperti itu, sebuah ide haruslah dibarengi dengan asumsi-asumsi publik lainnya, yang salah hanyalah ketika kita lebih nyaman dengan rasa ketidak tahuan yang kita miliki

              Yang tersisa hanyalah sejarah buruk,bagi orang-orang yang tidak ingin tahu, orang-orang yang sudah tercekoki zaman. ide Marx adalah salah satu bingkaian sejarah buruk yang dibingkai oleh sekelompok orang yang memang menentang status quo-nya di lawan, sekelompok orang yang takut kursinya di rebut orang lain. Hantu dizaman modern ini bukan lagi pasal yang klenik-klenik. Hantu yang modern dimasa kini ialah ide-ide yang dibingkai sedemikian rupa, yang didandani seciamik mungkin, sehingga dapat menakut-nakuti khalayak publik, baik dari sisi psychology (traumatis), moralitas, dan tentunya materi.


Isnpirasi oleh : IndoprogressTV-Kupas singkat Marx dan agama part1

About Us